Khatib Jumat Madjid Al’Kusuf Balaikota Semarang Ajak Wujudkan Generasi Rabbani Menuju Indonesia Emas 2045

Semarang- Momentum Hari Anak Nasional menjadi tema utama Khutbah Jumat di Masjid Al Kusuf Kompleks Balaikota Semarang, Jumat (24/7/2026).

Dalam khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah, khususnya para orang tua, aparatur pemerintah, pendidik, dan tokoh masyarakat, untuk menjadikan pembinaan anak sebagai misi utama dalam menjaga keberlangsungan peradaban dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Disampaikan bahwa setiap generasi membutuhkan generasi penerus yang lebih baik. Oleh karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 9 yang memerintahkan agar umat mempersiapkan keturunan yang kuat dan tidak mengkhawatirkan masa depannya.

Khatib menegaskan bahwa kelemahan generasi tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga mencakup lemahnya akidah, ibadah, ilmu pengetahuan, persaudaraan, kesehatan fisik, mental, serta kemampuan menghadapi perkembangan zaman. Karena itu, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, sehat, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Dalam khutbah tersebut disampaikan enam pilar penguatan generasi, yaitu penguatan akidah, agar anak memiliki keimanan yang kokoh; penguatan ibadah, sehingga tumbuh kedisiplinan dan kedekatan kepada Allah SWT; penguatan ilmu pengetahuan, agar mampu bersaing dan berinovasi; penguatan ekonomi, sehingga lahir generasi yang mandiri dan produktif; penguatan jejaring persaudaraan dan persahabatan, agar mampu membangun ukhuwah, kolaborasi, serta kepemimpinan dan penguatan fisik serta mental, sehingga lahir generasi yang sehat, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Khatib juga mengingatkan bahwa cita-cita setiap orang tua bukan sekadar melihat anak meraih jabatan atau kesuksesan duniawi, tetapi melahirkan anak yang saleh dan salehah, yaitu generasi Rabbani dan generasi Qurani yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup. Apa pun profesinya kelak menjadi ulama, guru, dokter, pengusaha, aparat negara, akademisi, maupun pemimpinyang terpenting adalah tetap menjadi pribadi yang saleh, bertakwa, amanah, dan bermanfaat bagi umat.

Selain pendidikan dan keteladanan, khutbah tersebut menekankan pentingnya doa orang tua. Doa orang tua merupakan salah satu doa yang sangat mustajab di sisi Allah SWT. Namun, khatib mengingatkan bahwa terkabulnya doa juga harus diiringi dengan usaha menjaga kehalalan rezeki yang diberikan kepada keluarga.

Hal tersebut merujuk pada hadis sahih riwayat Imam Muslim tentang seseorang yang telah lama berdoa kepada Allah, tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan tumbuh dari sesuatu yang haram, sehingga Rasulullah bersabda, “Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” Hadis ini menjadi pengingat bahwa makanan dan rezeki yang halal merupakan fondasi penting dalam pembentukan anak yang saleh sekaligus menjadi sebab diterimanya doa-doa orang tua.

Di akhir khutbah, seluruh jamaah diajak menjadikan Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum memperkuat komitmen dalam membangun generasi yang kokoh imannya, benar ibadahnya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, sehat jasmaninya, mandiri ekonominya, luas jejaring persaudaraannya, serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Dengan lahirnya generasi Rabbani dan generasi Qurani yang saleh dan salehah, diharapkan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan mampu mengantarkan bangsa menuju Indonesia Emas 2045 yang berkeadaban, maju, dan diridhai Allah SWT.

(Red)

Berita Terkait