Citranusantaranews
Oleh : Dr.H.KRAT.AM.Jumai,SE.MM
Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat persatuan, nasionalisme, dan pengabdian kepada bangsa. Dalam dinamika kehidupan modern yang penuh tantangan, bangsa Indonesia membutuhkan spirit pembangunan yang berlandaskan nilai kebersamaan, gotong royong, dan cinta tanah air demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kebangkitan nasional pada hakikatnya adalah kebangkitan kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama membangun Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat. Semangat tersebut harus dimulai dari pembangunan karakter bangsa melalui penguatan nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme bukan hanya slogan, tetapi sikap mencintai bangsa dengan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Sedangkan patriotisme diwujudkan melalui pengabdian nyata, kerja keras, disiplin, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Nilai-nilai luhur bangsa telah diwariskan melalui Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI. Keempat pilar tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan Indonesia sebagai negara yang besar, majemuk, dan berdaulat. Dalam kondisi sosial yang terus berubah, bangsa Indonesia harus tetap teguh memegang nilai persatuan agar tidak mudah terpecah oleh konflik, provokasi, maupun kepentingan sesaat yang dapat melemahkan kekuatan bangsa.
Indonesia adalah rumah besar bagi seluruh anak bangsa. Dalam pandangan Muhammadiyah, Indonesia merupakan “Daarul Ahdi wa Syahadah”, yaitu negara hasil konsensus nasional sekaligus tempat pembuktian karya dan pengabdian. Karena itu, menjaga NKRI bukan hanya kewajiban konstitusional, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual untuk mewariskan negeri yang aman, damai, dan sejahtera kepada generasi penerus.
Spirit pembangunan harus diwujudkan melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan rakyat. Tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, komunitas sosial, akademisi, pengusaha, pewarta, aparat keamanan, TNI, Polri, serta seluruh komponen bangsa harus bergerak bersama membangun peradaban yang kuat dan berkemajuan. Semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa Indonesia harus terus dihidupkan dalam setiap lini kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.
Kota Semarang sebagai kota metropolitan dan pusat pertumbuhan di Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk menjadi contoh kebangkitan nasional berbasis persatuan dan kolaborasi. Semarang tidak hanya dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa, tetapi juga kota yang kaya dengan keberagaman budaya, agama, dan komunitas masyarakat. Oleh karena itu, seluruh kekuatan sosial di Kota Semarang perlu bersatu membangun suasana yang harmonis, aman, produktif, dan penuh semangat kebersamaan.
Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026 harus menjadi titik refleksi bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan. Perselisihan, ego sektoral, dan kepentingan kelompok harus disingkirkan demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Generasi muda juga harus dipersiapkan menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, cinta tanah air, dan memiliki komitmen kuat terhadap NKRI.
Akhirnya, Kebangkitan Nasional bukan hanya mengenang sejarah perjuangan para pendiri bangsa, tetapi juga melanjutkan semangat perjuangan tersebut melalui karya nyata. Dengan ethos pembangunan, semangat gotong royong, dan komitmen kebangsaan yang kuat, Indonesia akan tetap kokoh sebagai rumah besar bersama menuju masa depan yang maju, berdaulat, adil, dan bermartabat.
(Red)

