Citranusantaranews
Semarang – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-479 Kota Semarang, Kelurahan Wonodri menggelar kegiatan budaya bertajuk Festival Bubur Sendang yang dirangkaikan dengan peresmian Sendang Wonodri usai proses pemugaran.
Sendang Wonodri memiliki nilai historis tersendiri. Ketua RW 02, Budi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan bahwa berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, sendang tersebut pernah digunakan untuk mandi oleh Presiden Soeharto saat masih menjabat.
Kegiatan berlangsung meriah dengan dibuka oleh penampilan kesenian tradisional jathilan dan tari kuda lumping yang dibawakan oleh warga setempat. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang hadir dan ikut memeriahkan acara.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur dari Kecamatan Semarang Selatan, jajaran Kelurahan Wonodri, TNI/Polri, serta berbagai elemen masyarakat.
Awalnya, peresmian sendang dijadwalkan dilakukan oleh Wali Kota Semarang, namun karena berhalangan hadir, acara diwakilkan oleh Camat Semarang Selatan, Sunardi.
Prosesi pembukaan secara adat diawali dengan sambutan budaya yang disampaikan oleh Ki Demang Cokro (Bopo Tarno) dari Mataram Agung dan Kalacakra Underaning Jawa. Sementara doa penutup dipimpin oleh Mbah Zainudin selaku Modin Kelurahan Wonodri.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh para pemerhati budaya leluhur dari komunitas Kalacakra Underaning Jawa dan Mataram Agung Nusantara yang dikoordinir oleh Ki Demang Cokro, dengan total sekitar 10 orang perwakilan yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Camat Semarang Selatan, Sunardi, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman modern. Ia menilai, masih banyak masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya leluhur.
Senada dengan itu, Lurah Wonodri Noor Chosim menegaskan bahwa menjaga dan melestarikan budaya Jawa merupakan kewajiban sebagai bagian dari identitas masyarakat. “Uri-uri budaya Jawa wajib bagi kita sebagai orang Jawa. Dengan banyaknya masyarakat yang hadir, ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap budaya masih sangat tinggi,” ungkapnya.
Festival Bubur Sendang ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan pelestarian budaya lokal di tengah masyarakat.
(Red)

